
FIS.UNG, Media Center — Di tengah tren menurunnya angka pernikahan di Indonesia, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo, Siti Nurchaliza Panai, menghadirkan penelitian yang menyoroti perubahan cara pandang generasi muda terhadap pernikahan.
Menariknya, Siti menjadi salah satu wisudawati angkatan 2022 Jurusan Ilmu Komunikasi yang berhasil meraih gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom) pada periode wisuda kali ini.
Melalui skripsinya berjudul Persepsi Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo pada Pernikahan, Siti meneliti fenomena yang kini ramai diperbincangkan generasi muda, yakni “Marriage is Scary.”
Fenomena ini menggambarkan meningkatnya kekhawatiran generasi muda terhadap pernikahan akibat paparan berbagai cerita rumah tangga di ruang digital, mulai dari konflik pasangan, perselingkuhan, hingga kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Menurut Siti, pernikahan yang dulu identik dengan fase hidup bahagia dan romantis kini tidak lagi dipahami sesederhana itu oleh generasi muda.
“Generasi sekarang tidak lagi melihat pernikahan hanya sebagai kewajiban sosial. Mereka mempertimbangkan banyak aspek sebelum mengambil keputusan besar tersebut,” ungkapnya.
Penelitian yang telah dipublikasikan dalam PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Volume 5 Nomor 3 Tahun 2026 ini menunjukkan bahwa mahasiswi FIS UNG memiliki pandangan yang semakin reflektif, kritis, dan berhati-hati terhadap institusi pernikahan.
Melalui wawancara mendalam terhadap mahasiswi berusia 19–23 tahun, Siti menemukan bahwa persepsi tentang pernikahan terbentuk melalui tiga tahapan: stimulus, registrasi, dan interpretasi.
Pada tahap stimulus, mahasiswi banyak terpapar narasi negatif dari lingkungan sekitar maupun media sosial. Konten tentang perselingkuhan, KDRT, dan ketidakharmonisan rumah tangga menjadi pemantik utama munculnya rasa takut terhadap pernikahan.
Namun, temuan penelitian ini menunjukkan hal yang menarik. Mahasiswi FIS UNG tidak serta-merta menelan seluruh informasi negatif tersebut. Mereka justru melakukan proses penyaringan informasi secara kritis.
Artinya, rasa takut terhadap pernikahan bukan berarti penolakan terhadap pernikahan itu sendiri.
Sebaliknya, mereka kini memandang pernikahan sebagai keputusan hidup yang menuntut kesiapan mental, stabilitas ekonomi, kematangan emosional, serta kesetaraan pola pikir dengan pasangan.
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah adanya pergeseran makna pernikahan di kalangan Generasi Z: dari sesuatu yang romantis dan ideal menjadi sebuah komitmen jangka panjang yang penuh tanggung jawab dan manajemen risiko.
“Cinta saja tidak cukup. Pernikahan membutuhkan kesiapan yang lebih kompleks,” menjadi benang merah dari temuan penelitian tersebut.
Penelitian ini memperlihatkan bagaimana media digital berperan besar dalam membentuk psikologi komunikasi generasi muda. Informasi yang terus beredar di media sosial bukan hanya memengaruhi opini, tetapi juga membentuk cara berpikir dalam mengambil keputusan hidup.
Melalui riset ini, Siti berharap generasi muda dapat lebih bijak dalam menyaring informasi digital dan membangun persepsi yang seimbang mengenai pernikahan.
Penelitian ini juga menjadi kontribusi akademik Program Studi Ilmu Komunikasi FIS UNG dalam membaca dinamika sosial kontemporer, khususnya bagaimana media digital membentuk cara Generasi Z memahami relasi interpersonal dan institusi keluarga.
Link e-Skripsi
Link Jurnal
Jurusan Komunikasi UNG Akan Menggelar Seminar Nasional Etika Konten di Media Sosial
kegiatan Kuliah Pakar dengan Bupati Kab. Kepulauan Talaud di Aula FIS dengan tema "Individual dalam Interaksi Antar Manusia"
FIS sebagai Pelaksana Upacara Korpri di Lingkungan UNG
Sehubungan kepentingan peningkatan Point IKU maka dipandang perlu mengadakan tracer Study dengan Temu Alumni yang akan dilaksanakan di Kabupaten Pohuwato pada tanggal 4 s.d 5 Desember 2022