
Di atas kapal Tol Laut Sabuk Nusantara 76, riuh percakapan penumpang terus ramai. Orang-orang bertemu sapa dari latar belakang yang beragam. Suku Minahasa datang dari utara, warga Gorontalo melangkah ke rantau, para pedagang Banggai (Mansalean) membawa hasil alam, masyarakat Buton dari Sulawesi Tenggara, hingga penumpang asal Taliabu.
Mereka semua berada dalam ruang terbatas: berbagi pengalaman dan saling bertukar cerita dalam momen pelayaran. Kisah ini menandakan, bahwa kapal lebih daripada sekadar media transportasi, sungguhpun menyajikan ruang perjumpaan antar kebiasaan dan budaya yang menjadi denyut kehidupan multikulturalisme.
Dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, kapal memfasilitasi jalinan sosial tercipta melalui percakapan santai, senyuman, bahkan bantuan kecil antarpenumpang. Inilah fondasi masyarakat menurut sosiolog Georg Simmel (Javed, 2024). Sebab, ruang terbatas dalam pelayaran menjadikan kontak sosial sulit dihindari, sehingga setiap individu menegosiasikan jarak sosial dengan cara-cara alamiah.
Di atas kapal, interaksi adalah panggung. Setiap penumpang menampilkan identitasnya. Logat Minahasa terdengar akrab, cerita orang Gorontalo tentang kampung halaman, kisah perantauan etnik Buton, keterbatasan akses orang-orang Taliabu yang penuh liku. Dalam teori dramatugi Erving Goffman (Kurniadi, 2024). ini bagian dari pertunjukan sosial, di mana keanekaragaman hadir sebagai sebuah realitas sehari-hari, tanpa memerlukan ajakan resmi maupun acara ceremonial.
Di sisi lain, perjumpaan antarpenumpang melahirkan ruang hibrid baru atau ruang ketiga sebagaimana Homi Bhabha (Bhandari, 2022) menyebutkannya, bahwa identitas tidak lagi berdiri tunggal. Orang Minahasa, Gorontalo, Buton, atau Taliabu tetap berlaku, tetapi dalam perjalanan yang sama, mereka membentuk “identitas baru”, yaitu identitas sekapal.
Identitas ini muncul dari pengakuan atas yang lain, disatukan oleh interaksi, dan disusun atas negosiasi. Ketika seorang penumpang berbagi makanan dengan yang lain misalnya, atau saat beberapa orang berkerjasama mengangkut barang bawaan, perbedaan latar belakang mereka tidak hilang, namun membentuk jalinan “solidaritas sementara” di atas laut.

Pengalaman demikian memperlihatkan kesinambungan peristiwa dalam sejarah kawasan Sulawesi. Laut Sulawesi dan Teluk Tomini sejak lama menjadi arena perjumpaan lintas kalangan. Adrian B. Lapian selaku sejarawan kesohor di bidang ini, melalui karyanya Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut (2009) menuliskan laut Nusantara merupakan infrastruktur jalan raya yang menghubungkan berbagai komunitas.
Gorontalo, Banggai, dan Ternate adalah simpul masa lalu yang turut andil memainkan perdagangan maritim. Para saudagar Bugis, orang Buton, bersama Gorontalo membangun harmoni dagang, sementara pelaut dari Minahasa berlayar ke Maluku. Wilayah Tomini adalah “frontier multikultural”, tempat petemuan lintas etnis terjadi secara alami. Karena itu, Tomini bukan sekadar teluk, melainkan jalur migrasi dan sarana silang budaya di mana bahasa, teknologi perahu, dan praktik sosial saling bertaut (Lapian, 2009).
Dengan demikian, perspektif ini memberi sinyal, bahwa kapal Tol Laut tidak hadir dalam kekosongan makna. Ia melanjutkan tradisi lama, di mana laut menjadi perekat budaya, bukan garis pemisah. Jika dahulu bandar-bandar dagang di Gorontalo dan Banggai mempertemukan pedagang dan pelaut dari berbagai etnis, kini dalam bentuk yang modern peran serupa digerakan oleh kapal Tol Laut.

Kapal itu ibarat “pelabuhan bergerak”, tempat perjumpaan untuk menghadirkan kembali kosmopolitanisme maritim yang pernah mewarnai percaturan kawasan ini sejak berabad-abad lalu (Amin, 2025). Laut Sulawesi dan Teluk Tomini membuktikan bahwa identitas etnis di kawasan itu tidak pernah statis, melainkan selalu dibentuk oleh perjumpaan dan interaksi lintas batas.
Fenomena ini dapat membentuk alam mental kawasan, bahwa kapal hari ini adalah gema dari hasil interaksi pesisir yang pernah padam berabad lalu, sekaligus cermin multikulturalisme atas pengakuan antar-etnis yang dulu dirajut. Meminjam konsep Bourdieu, kapal di sini menjadi ruang habitus bagi setiap suku dalam memperlihatkan modal sosial maritim yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Akhirnya, perjumpaan di kapal Tol Laut bukanlah peristiwa yang sepele, melainkan bagian dari interkonesksi maritim di kawasan Sulawesi dan Maluku. Kapal modern hari ini menghidupkan kembali tradisi lama, meskipun dengan wajah berbeda. Permasalahannya kemudian, bagaimana negara dapat memastikan ruang-ruang perjumpaan ini benar-benar menjadi fondasi bagi kehidupan kewargaan multikultural?
Kebijakan pemerintah tidak cukup semata memposisikan Tol Laut sebagai jalur logistik, tetapi juga sebagai jalur kebudayaan. Dengan lain perkataan, pengalaman perjumpaan di kapal bisa diperkaya dengan program literasi budaya maritim, kuliner daerah, ruang dialog sederhana antarpenumpang, atau bahkan fasilitas inklusif yang memperlihatkan pengakuan setara terhadap semua warga.
Hak kewargaan penting dijamin dalam konteks mobilitas ini, mulai dari kenyamanan perjalanan, akses informasi dalam berbagai bahasa, hingga pelayanan yang ramah bagi setiap identitas. Dengan begitu, kapal Tol Laut menjadi ruang batin yang menghidupkan solidaritas lintas etnis.
Perjumpaan kultural di atas kapal memberi pemaknaan tentang keberagaman yang dirajut melalui praktik informal. Dengan demikian, multikulturalisme dari timur Indonesia melampaui proyek ideologis, yakni tumbuh dalam realitas sehari-hari: hidup di ruang-ruang transit, percakapan di atas geladak, maupun tradisi kebahariaan. Tol Laut memberi pelajaran, bahwa kewargaan multikultural akan lebih kokoh bila membaca kembali warisan kosmopolitanisme maritim. Di situlah, hak kewargaan menemukan pijakan konkret, berakar pada sejarah, dan berlayar membawa harapan yang lebih inklusif
Daftar Bacaan
Amin, Basri (15/09/2025). Gorontalo di Jalur Niaga dan Perlintasan Budaya. Gorontalopost.id
B. Lapian, Adrian (2009). Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Jakarta: Komunitas Bambu
Bhandari, N. B. (2022). Homi K. Bhabha’s third space theory and cultural identity today: A critical review. Pragya Academic Journal, 5(1), 47–56.
Javed, M. (2024). The Sociological Insights of Georg Simmel: Exploring Social Dynamics, Structures, and Interactions. American Journal of Qualitative Research, 8(3), 229-233.
Kurniadi, A. (2024). Postcolonial pessimisms and alternative spatial practices: Critical interpretation of the concept of the third space through the case of Fatahillah Square, Indonesia. International Journal of Cultural Studies, 27(3), 412–430.
Jurusan Komunikasi UNG Akan Menggelar Seminar Nasional Etika Konten di Media Sosial
kegiatan Kuliah Pakar dengan Bupati Kab. Kepulauan Talaud di Aula FIS dengan tema "Individual dalam Interaksi Antar Manusia"
FIS sebagai Pelaksana Upacara Korpri di Lingkungan UNG
Sehubungan kepentingan peningkatan Point IKU maka dipandang perlu mengadakan tracer Study dengan Temu Alumni yang akan dilaksanakan di Kabupaten Pohuwato pada tanggal 4 s.d 5 Desember 2022