
FIS.UNG, Media Center – Transportasi ojek online semakin menjadi pilihan utama masyarakat, khususnya mahasiswa, karena tarifnya yang terjangkau dan kemudahan akses. Namun, di balik kemudahan tersebut, para pengemudi justru menghadapi tekanan ekonomi yang kian berat akibat penurunan pendapatan dan tingginya biaya operasional. Temuan ini terungkap dalam kegiatan liputan lapangan yang dilakukan mahasiswa sebagai bagian dari praktik mata kuliah Jurnalisme Dasar.
Dalam pelaksanaan tugas tersebut, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi turun langsung ke lapangan untuk menggali informasi dari berbagai pihak, mulai dari pengemudi hingga pengguna jasa ojek online. Hasil liputan itu kemudian dipresentasikan di ruang kelas perkuliahan pada Senin, 27 April 2026, sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran berbasis praktik jurnalistik.
Salah satu pengemudi, Imran, mengaku pendapatannya menurun drastis hingga 50 persen dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut persaingan yang semakin ketat dan jumlah pesanan yang menurun menjadi penyebab utama. “Sekarang order tidak menentu, sementara kebutuhan terus jalan,” ujarnya.
Selain itu, potongan aplikasi sebesar 10 persen untuk tarif di bawah Rp10.000 dinilai semakin memberatkan. Kondisi ini diperparah dengan biaya operasional seperti bahan bakar dan perawatan kendaraan yang tetap tinggi. Tak jarang, pengemudi juga menghadapi risiko penumpang yang tidak membayar, sehingga menambah beban ekonomi sekaligus tekanan psikologis.
Di sisi lain, pengguna jasa justru merasakan manfaat besar dari tarif murah tersebut. Sasya, seorang mahasiswa, mengatakan ojek online sangat membantu mobilitasnya sehari-hari, terutama untuk menunjang aktivitas perkuliahan. “Tarifnya sesuai dengan kantong mahasiswa, mudah dapat driver, dan cukup aman,” katanya. Meski demikian, ia mengakui layanan kerap terkendala saat hujan atau jam sibuk.
Hasil liputan mahasiswa menunjukkan adanya ketimpangan antara kepentingan pengguna dan kesejahteraan pengemudi. Tarif rendah memang meningkatkan aksesibilitas transportasi, tetapi pada saat yang sama menekan pendapatan driver secara signifikan.
Sejumlah pihak menilai kondisi ini memerlukan intervensi regulasi yang lebih seimbang. Pemerintah daerah diharapkan dapat menetapkan kebijakan yang melindungi pengemudi tanpa mengorbankan keterjangkauan bagi pengguna. Pengawasan terhadap potongan aplikasi juga dinilai penting agar tidak merugikan mitra pengemudi.
Selain itu, kolaborasi antara platform, pengemudi, dan institusi pendidikan dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menciptakan ekosistem transportasi yang adil dan berkelanjutan.
Dengan meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap ojek online, keseimbangan antara tarif murah dan kesejahteraan pengemudi menjadi isu krusial yang perlu segera ditangani. Hasil liputan lapangan mahasiswa ini diharapkan dapat menjadi gambaran nyata kondisi di lapangan sekaligus bahan refleksi bagi para pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan ke depan.
Penulis : Ramansyah
Jurusan Komunikasi UNG Akan Menggelar Seminar Nasional Etika Konten di Media Sosial
kegiatan Kuliah Pakar dengan Bupati Kab. Kepulauan Talaud di Aula FIS dengan tema "Individual dalam Interaksi Antar Manusia"
FIS sebagai Pelaksana Upacara Korpri di Lingkungan UNG
Sehubungan kepentingan peningkatan Point IKU maka dipandang perlu mengadakan tracer Study dengan Temu Alumni yang akan dilaksanakan di Kabupaten Pohuwato pada tanggal 4 s.d 5 Desember 2022