Ramadan di Era Algoritma: Dakwah antara Mimbar dan Media Sosial

Oleh: Wira Pratama Rumambie . 4 Maret 2026 . 11:45:05

Foto: Ilustrasi (Visual AI)

Bulan Ramadan merupakan waktu istimewa bagi seorang muslim untuk meningkatkan hubungannya dengan Allah Subhanallahu Wataa’la. Selain puasa dan shalat tarawih, dakwah Ramadan menjadi rutinitas yang selalu ditunggu-tunggu. Dakwah Ramadan hadir sebagai penyemangat dalam menjalankan ibadah yang penuh perjuangan di bulan suci. Aktivitas ini telah berlangsung sejak lama dalam kehidupan umat islam.

Dalam ilmu komunikasi, dakwah adalah perjumpaan antara seorang da’i dengan masyarakat. Dahulu, perjumpaan ini berlangsung secara tatap muka, hangat dan langsung. Melalui mimbar kayu, da’i melihat wajah jamaah, merasakan keheningan mereka dan memahami anggukan kecil sebagai tanda penerimaan. Pesan disampaikan secara perlahan, penuh jeda dan sarat makna. Efeknya tumbuh seiring waktu, seperti benih yang disiram kesabaran.

Seiring perkembangan teknologi komunikasi yang pesat, bentuk perjumpaan itu pun berubah. Da’i berbicara melalui kamera, menatap lensa dingin tanpa ekspresi. Jamaah tidak lagi terlihat secara langsung, tetapi jumlahnya bisa mencapai ribuan bahkan jutaan. Pesan disampaikan dengan singkat dan cepat agar dapat mencuri perhatian sebelum jari menggulir layar kebawah. Di sinilah dakwah memasuki wilayah baru –wilayah media sosial- dimana ilmu komunikasi menjadi kompas penuntun arah.

Ramadan mengintensifkan segalanya. Konten dakwah bermunculan secara masif. Kutipan ayat, kisah islami singkat, poster, hingga potongan video ceramah satu menit. Setiap platform mempunyai karakternya sendiri, persis seperti manusia yang mempunyai cara berbeda dalam menaruh perhatian. Ada yang butuh narasi panjang, ada yang hanya butuh satu kalimat sederhana. Di sinilah seni komunikasi bekerja. MEmahami audiens dan  menyampaikan kebenaran dengan cara yang bisa diterima.

Namun, jalan digital tidak selalu hening dan damai. Pesan dapat terpotong, makna dapat meleset dan niat baik bisa tersesat d iantara algoritma. Dakwah kehilangan ruhnya ketika mengejar angka dan sensasi. Untuk itu, etika menjadi cahaya penuntun. Kejujuran, keteduhan bahasa dan tanggungjawab moral harus tetap dijaga, meski medan dakwah telah berubah.

Pada akhirnya, baik dari mimbar tua di masjid maupun dari layar ponsel canggih, dakwah adalah tentang hati. Media hanyalah jembatan. Ilmu komunikasi membantu kita memahami bagaimana pesan menyebranginya tanpa jatuh ke jurang salah paham. Ramadan datang setiap tahun membawa kesempatan yang sama. Menyampaikan kebaikan dengan cara yang lebih bijak dan lebih manusiawi. Mungkin, di suatu malam yang sunyi, seorang anak muda menutup ponselnya setelah menyaksikan sebuah video singkat. Dia terdiam sejenak, lalu menangis tersedu-sedu. Pesan itu sampai. Di sanalah dakwah menemukan maknanya, di ruang batin yang tak pernah bisa diukur oleh algoritma.

Oleh : La Here Kaharfin, M.I.Kom

Agenda

22 Mei 2024

Seminar Nasional Etika Konten di Media Sosial

Jurusan Komunikasi UNG Akan Menggelar Seminar Nasional Etika Konten di Media Sosial

17 Januari 2024

Kuliah Pakar dengan Bupati Kab. Kepulauan Talaud

kegiatan Kuliah Pakar dengan Bupati Kab. Kepulauan Talaud di Aula FIS dengan tema "Individual dalam Interaksi Antar Manusia"

17 Januari 2023

Pelaksana Upacara KORPRI

FIS sebagai Pelaksana Upacara Korpri di Lingkungan UNG

4 - 5 Desember 2022

Tracer Study dengan Temu Alumni

Sehubungan kepentingan peningkatan Point IKU maka dipandang perlu mengadakan tracer Study dengan Temu Alumni yang akan dilaksanakan di Kabupaten Pohuwato pada tanggal 4 s.d 5 Desember 2022