
FIS.UNG, Media Center – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menjadi salah satu mitra penting dalam penelitian kolaboratif Indonesia–Australia yang berfokus pada transisi layanan kesehatan primer menuju net zero emission atau emisi nol bersih. Penelitian bertajuk Green Health: Community Health Center Net Zero Transition Regulatory Framework tersebut dipaparkan oleh Prof. Yowan Tamu dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG, Senin (18/5/2026).
Prof. Yowan Tamu, yang terlibat sebagai partner investigator dalam program Partnership for Australia–Indonesia Research (PAIR), menjelaskan bahwa riset ini bertujuan menyusun kerangka regulasi dan instrumen tata kelola yang memungkinkan puskesmas di Indonesia bertransformasi menjadi fasilitas kesehatan yang lebih ramah lingkungan.
“Penelitian ini tidak hanya berorientasi pada pengembangan akademik, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan dampak nyata bagi tata kelola kesehatan di daerah, khususnya dalam mendukung transisi menuju net zero di tingkat layanan kesehatan primer,” ujar Prof. Yowan.
Riset yang berlangsung selama dua tahun sejak Agustus 2025 ini merupakan hasil kolaborasi sejumlah universitas dari Australia dan Indonesia, dengan University of Melbourne sebagai AU Lead. Dari Indonesia, mitra penelitian melibatkan Universitas Hasanuddin, Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Gadjah Mada, serta Universitas Sam Ratulangi.

Salah satu kekuatan utama penelitian ini adalah pendekatan socio-anthropological lens yang digunakan untuk memastikan kebijakan yang dirancang sesuai dengan konteks budaya dan kondisi lokal masyarakat.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar implementasi regulasi terkait dekarbonisasi fasilitas kesehatan dapat diterapkan secara efektif.
Dalam pelaksanaannya, penelitian ini juga melibatkan berbagai impact partners, termasuk Bappeda Provinsi Gorontalo yang berperan dalam mengintegrasikan hasil penelitian ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Selain itu, dinas kesehatan tingkat provinsi dan kabupaten turut dilibatkan dalam proses pemetaan regulasi dan adopsi kebijakan.
Sejumlah puskesmas di Gorontalo dan Sulawesi Utara menjadi lokasi penelitian melalui wawancara, focus group discussion (FGD), dan survei yang melibatkan sekitar 50 responden. Organisasi perangkat daerah lintas sektor juga dilibatkan untuk memperkuat koordinasi terhadap mandat net zero di tingkat daerah.

Penelitian ini ditargetkan menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, mulai dari kebijakan berbasis bukti untuk transisi net zero di layanan kesehatan primer, kerangka insentif bagi dekarbonisasi fasilitas kesehatan, hingga model regulasi yang dapat diadopsi oleh otoritas kesehatan di tingkat provinsi maupun nasional.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Deputi Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, yang menyampaikan harapannya agar hasil penelitian kolaboratif ini dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Semoga hasil penelitian ini bisa diterjemahkan menjadi dampak nyata,” ujarnya.
Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam mempertemukan riset akademik, kebijakan publik, dan kebutuhan masyarakat, sekaligus menunjukkan komitmen bersama Indonesia dan Australia dalam mendorong sistem kesehatan yang lebih berkelanjutan di masa depan.
Penulis : Saad Lintang