
FIS.UNG, Media Center — Setelah memperkuat kapasitas teknis petani melalui pelatihan budidaya dan pengembangan demplot pertanian, Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo kembali melanjutkan program pendampingan masyarakat melalui penguatan aspek tata kelola ekonomi usaha tani.
Melalui kegiatan bertema “Membangun Kemandirian Ekonomi Petani Melalui Analisis Biaya, Margin, dan Break Even Point”, yang dilaksanakan pada Rabu, 24 Juni 2026 di Kelurahan Polohungo, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, petani dibekali pemahaman tentang bagaimana menghitung biaya produksi, margin keuntungan, hingga titik impas usaha tani sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi yang lebih rasional.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim pengabdian yang terdiri atas Dr. Ria Indriani, S.P., M.Si., Dr. Rustam Tohopi, S.Pd., M.Si., Alfiyah Agusalim, S.AP., M.AP., Rahmatia Pakaya, S.E., M.Si., Dr. Yacob Noho Nani, S.Pd., M.Si., dan Dr. Alexander H. Badjuka, S.Si., M.AP.

Bagi Program Studi Administrasi Publik, pembangunan sektor pertanian tidak hanya berhenti pada peningkatan produktivitas, tetapi juga menyangkut kemampuan petani dalam membaca struktur biaya, memahami rantai nilai, serta memperkuat posisi tawar dalam sistem pasar.
Ketua Jurusan Administrasi Publik FIS UNG sekaligus Dosen Pembimbing Lapangan KKN Terintegrasi BIMA Tahun 2026, Dr. Yacob Noho Nani, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa penguatan ekonomi petani membutuhkan sinergi antarpemangku kepentingan.

“Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan menghitung biaya produksi atau keuntungan usaha tani. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wadah membangun kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah desa, petani jagung, koperasi, perguruan tinggi, Bulog, serta berbagai perusahaan dan pelaku usaha yang menjadi mitra penampung hasil panen,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar petani tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperoleh kepastian pasar, harga yang lebih adil, akses permodalan, serta penguatan kelembagaan ekonomi desa.
Dalam pelatihan ini, petani diajak memahami konsep Break Even Point (BEP) atau titik impas, yaitu titik minimal produksi atau penjualan yang harus dicapai agar usaha tani tidak mengalami kerugian. Pendekatan ini membantu petani menyusun strategi usaha berbasis data dan perhitungan yang lebih terukur.

“Kami berharap melalui kegiatan ini lahir pemahaman bersama mengenai struktur biaya, margin usaha, dan titik impas sebagai dasar pengambilan keputusan usaha tani yang lebih rasional. Dengan demikian, koperasi dapat berkembang menjadi lembaga ekonomi yang kuat, pemerintah desa dapat mendukung kebijakan yang berpihak kepada petani, dan mitra usaha dapat membangun kemitraan yang saling menguntungkan dalam rantai pasok jagung,” tambahnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan produktivitas pertanian, kegiatan ini juga diintegrasikan dengan penyaluran bibit unggul jagung merek Sumo kepada 20 petani yang tergabung dalam dua kelompok tani binaan Program Studi Administrasi Publik UNG, yakni Kelompok Tani Merah Putih Jaya dan Kelompok Tani Merah Putih Mekar.



Penyaluran bibit unggul ini menjadi tahap lanjutan dari program pendampingan sebelumnya. Jika pada tahap awal petani diperkuat melalui peningkatan kapasitas budidaya, maka pada tahap ini fokus diarahkan pada penguatan produktivitas sekaligus keberlanjutan ekonomi usaha tani.
Melalui rangkaian program ini, Program Studi Administrasi Publik FIS UNG menegaskan bahwa administrasi publik tidak hanya berbicara tentang birokrasi dan tata kelola pemerintahan, tetapi juga bagaimana merancang model kolaborasi pembangunan yang mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.

Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan komitmen Program Studi Administrasi Publik dalam menghadirkan pengabdian berbasis evidence-based policy, yakni pendekatan yang mengintegrasikan analisis akademik, kolaborasi kelembagaan, dan solusi aplikatif untuk mendukung pembangunan ekonomi desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan.