
FIS.UNG, Media Center — Kegiatan Performance Art x Creative Thinking yang digelar oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengangkat tema besar “Atlas Komunikasi 2045: Memetakan Medium, Kuasa, dan Etika Masa Depan”, sebagai refleksi perjalanan komunikasi dari masa ke masa.
Dosen pengampu mata kuliah creative thinking, Afika Puluhulawa, menjelaskan bahwa tema tersebut lahir dari proses perkuliahan yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Melalui tema Atlas 2045, mahasiswa diajak memahami perjalanan komunikasi sejak era Yunani, orde lama dan orde baru, hingga era kontemporer yang tengah dihadapi saat ini.
“Adik-adik perlu memahami bagaimana komunikasi berkembang. Di masa Yunani dan orde lama, cara menyampaikan pesan masih jelas. Namun di era kontemporer, kita mengalami kebingungan karena terlalu banyak informasi, sehingga sulit memetakan pesan,” jelas Afika.

Menurutnya, perubahan paling signifikan terjadi pada era kontemporer, ketika medium komunikasi menjadi penentu utama dalam penyampaian pesan, sekaligus berkaitan erat dengan isu kuasa dan etika.
“Hari ini kita melihat bagaimana pesan disampaikan melalui medium, bagaimana kuasa bekerja, dan bagaimana etika bisa berubah atau bahkan dipatahkan. Ini menjadi bekal bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin menuju Indonesia Emas 2045,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, mata kuliah Performance Art juga dikolaborasikan dengan mata kuliah Creative Thinking, yang menghadirkan empat kostum (dress) hasil karya mahasiswa. Menariknya, seluruh kostum dibuat dari bahan daur ulang, seperti plastik bekas dan barang tidak terpakai, tanpa membeli bahan baru.
“Semua dress ini murni hasil kreativitas mahasiswa Creative Thinking, memanfaatkan barang bekas sebagai bentuk kesadaran lingkungan sekaligus ekspresi seni,” ungkap Afika.
Sementara itu, dosen, Dr. Riana Diah, menegaskan bahwa seni pertunjukan tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan ilmu komunikasi. Menurutnya, seni pertunjukan membutuhkan strategi komunikasi agar dapat dipasarkan dan diterima secara luas oleh publik.
“Performance art berkaitan erat dengan komunikasi, desain grafis, media digital, dan berbagai bentuk seni lainnya. Seni pertunjukan membutuhkan komunikasi untuk membangun pemasaran yang kuat,” ujarnya.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh mahasiswa melalui mata kuliah Performance Art dan Creative Thinking dapat menambah pengetahuan serta keterampilan dalam mengelola dan mempertunjukkan produksi seni.
“Di dalam performance art terdapat seni tari, musik, dan drama teater. Ini bukan sekadar hiburan, tetapi medium untuk menyampaikan realitas kehidupan yang berkaitan dengan kuasa dan etika,” jelasnya.
Dr. Riana Diah juga menekankan bahwa pementasan ini menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya performance art komunikasi di FIS UNG dikemas secara tematik dan konseptual.
“Tari, drama, dan musik tidak berhenti sebagai hiburan semata, tetapi menjadi medium komunikasi yang merepresentasikan realitas kehidupan di era komunikasi saat ini,” tutupnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa, sekaligus memperkuat peran seni sebagai medium refleksi sosial dalam menghadapi tantangan komunikasi menuju tahun 2045.
Penulis : Saad Lintang
Jurusan Komunikasi UNG Akan Menggelar Seminar Nasional Etika Konten di Media Sosial
kegiatan Kuliah Pakar dengan Bupati Kab. Kepulauan Talaud di Aula FIS dengan tema "Individual dalam Interaksi Antar Manusia"
FIS sebagai Pelaksana Upacara Korpri di Lingkungan UNG
Sehubungan kepentingan peningkatan Point IKU maka dipandang perlu mengadakan tracer Study dengan Temu Alumni yang akan dilaksanakan di Kabupaten Pohuwato pada tanggal 4 s.d 5 Desember 2022