
FIS.UNG, Media Center – Konflik politik di tingkat daerah tidak hanya berdampak pada pergantian kepemimpinan, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan sosial masyarakat, efektivitas birokrasi, hingga kualitas pelayanan publik. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Abd. Halid Lemba, Wira Pratama Rumambie, Mohammad Akram Mursalim, Aditya Hambali, dan Siti Mayasari Pakaya dari Universitas Negeri Gorontalo melalui artikel ilmiah berjudul Dialektika Resolusi Konflik dan Konsolidasi Birokrasi Pasca-Krisis Kepemimpinan Daerah di Kabupaten Boalemo.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus untuk mengkaji dinamika konflik pasca-pemberhentian Bupati Boalemo. Melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis menggunakan Teori Konflik Dialektika Ralf Dahrendorf, tim peneliti mengidentifikasi berbagai faktor yang memicu konflik sekaligus dampaknya terhadap masyarakat dan pemerintahan daerah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik tidak muncul karena satu faktor tunggal. Ketidakstabilan afiliasi politik, ketimpangan pembangunan antarwilayah, disharmonisasi birokrasi, pengaktifan kembali kasus hukum lama, sengketa administrasi, pengabaian peran wakil kepala daerah, hingga lemahnya komunikasi kebijakan menjadi faktor yang saling berkaitan dalam memicu krisis kepemimpinan di Kabupaten Boalemo.
Penelitian juga menemukan bahwa dampak konflik tidak berhenti pada aspek politik. Polarisasi yang terjadi menyebabkan keretakan hubungan sosial antarwarga, munculnya sikap defensif dalam kehidupan bermasyarakat, terganggunya stabilitas birokrasi, hingga menurunnya efektivitas pelayanan publik. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa konflik politik memiliki konsekuensi luas terhadap tata kelola pemerintahan maupun kohesi sosial masyarakat.
Meski demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa konflik tidak selalu berakhir secara destruktif. Proses penyelesaian melalui mekanisme hukum, transisi kepemimpinan yang berjalan sesuai ketentuan, serta rekonsiliasi sosial berbasis nilai kekerabatan lokal terbukti mampu memulihkan stabilitas pemerintahan dan memperbaiki hubungan antarwarga. Transparansi komunikasi pemerintah setelah masa transisi juga berkontribusi dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat.
Menurut tim peneliti, temuan tersebut menegaskan pentingnya kepemimpinan yang partisipatif, komunikasi publik yang terbuka, serta penguatan kelembagaan pemerintahan untuk mencegah konflik serupa di masa mendatang. Konflik politik dipandang bukan sekadar persoalan pergantian kekuasaan, tetapi juga menjadi pelajaran mengenai pentingnya tata kelola pemerintahan yang inklusif dan akuntabel.
Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian sosiologi politik dan administrasi pemerintahan, khususnya dalam memahami hubungan antara konflik politik, stabilitas birokrasi, dan rekonsiliasi sosial. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang lebih partisipatif, memperkuat komunikasi publik, serta membangun mekanisme penyelesaian konflik yang berkelanjutan.
Link Jurnal
Jurusan Komunikasi UNG Akan Menggelar Seminar Nasional Etika Konten di Media Sosial
kegiatan Kuliah Pakar dengan Bupati Kab. Kepulauan Talaud di Aula FIS dengan tema "Individual dalam Interaksi Antar Manusia"
FIS sebagai Pelaksana Upacara Korpri di Lingkungan UNG
Sehubungan kepentingan peningkatan Point IKU maka dipandang perlu mengadakan tracer Study dengan Temu Alumni yang akan dilaksanakan di Kabupaten Pohuwato pada tanggal 4 s.d 5 Desember 2022