
Menaklukkan waktu di tengah arus kehidupan yang seringkali tak memberi jeda, ada dua jiwa yang memilih berjalan beriringan dalam sunyi perjuangan, seorang bapak, Joni Apriyanto dan seorang anak, Alif Anugerah Pratama, dipersatukan bukan hanya oleh darah, tetapi oleh tekad yang sama: menuntaskan ilmu hingga ke puncaknya.
Sang bapak, dengan usia yang telah matang oleh pengalaman, menapaki lorong-lorong pemikiran di Program Doktor Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro. Ia menyelami masa lalu, menggali jejak-jejak peradaban, dan merangkai kembali serpihan sejarah menjadi pengetahuan yang bermakna. Di balik setiap halaman disertasi yang ia tulis, tersimpan ketekunan yang tak tergoyahkan, malam-malam panjang, pengorbanan waktu, dan keyakinan bahwa belajar adalah perjalanan seumur hidup.
Sementara itu, sang putera melangkah di jalur yang berbeda namun tak kalah menantang. Di Program Studi Film dan Televisi, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidikan Indonesia, ia merangkai cerita melalui gambar dan suara. Ia belajar menangkap realitas, mengolah imajinasi, dan menyampaikan pesan melalui bahasa visual. Karyanya bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi zaman, cermin dari dunia yang terus bergerak.
Dua dunia yang berbeda, sejarah dan sinema, namun keduanya berpijak pada satu hal: pencarian makna. Sang bapak menulis sejarah, sang anak memvisualisasikannya, yang satu menafsir masa lalu, yang lain membingkai masa kini untuk masa depan.Perjalanan mereka tidak mudah. Ada lelah yang tak terucap, ada ragu yang sempat singgah, namun tak pernah tinggal. Mereka saling menguatkan dalam diam, tanpa banyak kata, namun penuh makna. Dalam rumah yang sama, dua perjuangan besar tumbuh berdampingan, dan waktu pun memberi jawaban.
Pada bulan Juli 2026, semesta seakan memberi penghormatan pada ketekunan mereka. Sang putera lebih dahulu diwisuda pada tanggal 21 Juli 2026, melangkah dengan bangga, menyandang gelar dengan predikat yang mengesankan. Sepuluh hari kemudian, pada tanggal 31 Juli 2026, sang bapak menyusul, menyelesaikan perjalanan panjangnya dengan kehormatan yang sama.
Dua tanggal yang berbeda, namun satu bulan yang sama. Dua garis waktu yang akhirnya bertemu dalam satu makna: keberhasilan yang lahir dari ketekunan, cinta, dan keteladanan.
Kisah ini bukan sekadar tentang kelulusan. Ini adalah cerita tentang warisan, tentang bagaimana seorang bapak tidak hanya mengajarkan dengan kata, tetapi dengan tindakan. Tentang bagaimana seorang anak tidak hanya mengikuti, tetapi juga melampaui dengan caranya sendiri.Di bulan Juli itu, bukan hanya gelar yang diraih, tetapi juga sebuah pesan yang abadi: bahwa pendidikan adalah jembatan antar generasi, dan perjuangan, bila dijalani bersama, meski dalam jalan yang berbeda, akan selalu menemukan cahaya yang sama di ujungnya.
Jurusan Komunikasi UNG Akan Menggelar Seminar Nasional Etika Konten di Media Sosial
kegiatan Kuliah Pakar dengan Bupati Kab. Kepulauan Talaud di Aula FIS dengan tema "Individual dalam Interaksi Antar Manusia"
FIS sebagai Pelaksana Upacara Korpri di Lingkungan UNG
Sehubungan kepentingan peningkatan Point IKU maka dipandang perlu mengadakan tracer Study dengan Temu Alumni yang akan dilaksanakan di Kabupaten Pohuwato pada tanggal 4 s.d 5 Desember 2022