
FIS.UNG, Media Center — Dosen Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Wira Pratama Rumambie, S.D., M.S., memimpin pelaksanaan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) melalui kegiatan Pelatihan 2 dan Pelatihan 3 di TK Damhil UNG dan TK Pembina Agropolitan, Selasa (18/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “Inovasi Kriya Mainan Edukatif Daur Ulang Plastik Rumah Tangga bagi Anak Usia Dini pada Komunitas Tanggidaa Grup di Kota Gorontalo.” Program ini melibatkan Tanggidaa Grup sebagai mitra dalam memberikan edukasi dan praktik pemanfaatan sampah plastik rumah tangga menjadi mainan edukatif.
Sekitar 40 peserta yang terdiri atas orang tua dan guru dari kedua sekolah mengikuti kegiatan tersebut. Pelatihan 2 berfokus pada praktik pembuatan mainan edukatif berbahan dasar sampah plastik, sedangkan Pelatihan 3 diarahkan pada pemanfaatan mainan tersebut sebagai media pembelajaran bagi anak usia dini.

Sebagai ketua tim pelaksana, Wira Pratama Rumambie mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan kepada orang tua dan guru bahwa sampah plastik rumah tangga dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai edukatif.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan kepada orang tua dan guru bahwa sampah plastik rumah tangga tidak selalu harus berakhir menjadi limbah. Dengan kreativitas dan pengolahan yang tepat, bahan-bahan sederhana seperti botol plastik dan tutup botol dapat dimanfaatkan menjadi mainan yang edukatif bagi anak,” ujar Wira.

Menurutnya, pemanfaatan bahan bekas sebagai mainan tidak hanya dapat membantu mengurangi sampah plastik, tetapi juga membuka ruang bagi orang tua dan guru untuk menghadirkan media pembelajaran yang sederhana dan mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diberikan kesempatan untuk mencoba secara langsung mainan edukatif yang telah disiapkan. Antusiasme terlihat ketika anak-anak berinteraksi dan mengeksplorasi berbagai mainan yang diperkenalkan.
Sementara itu, orang tua dan guru mendapatkan pemahaman mengenai cara memanfaatkan mainan tersebut sebagai sarana bermain sekaligus media belajar. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang lebih kreatif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak.

Tanggidaa Grup sebagai mitra turut memberikan video tutorial mengenai pembuatan mainan edukatif. Video tersebut memperlihatkan proses pembuatan dengan menggunakan alat dan bahan sederhana yang mudah ditemukan, sehingga dapat dipraktikkan kembali oleh orang tua maupun guru di rumah dan sekolah.
Perwakilan Tanggidaa Grup, Jamaludin Kadir, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemberian pengetahuan, tetapi dapat diterapkan secara mandiri oleh peserta.
“Harapannya, setelah kegiatan ini orang tua dan guru tidak hanya mengetahui bahwa sampah plastik dapat didaur ulang, tetapi juga dapat mempraktikkannya sendiri untuk membuat media bermain dan belajar yang sederhana bagi anak,” ujar Jamaludin.
Antusiasme peserta juga terlihat dalam sesi diskusi. Salah satu orang tua dan salah satu guru mengajukan pertanyaan kepada pemateri mengenai pemanfaatan serta proses pembuatan mainan edukatif dari bahan bekas.
Melalui program yang dipimpin dosen FIS UNG tersebut, Tim PISN bersama Tanggidaa Grup mendorong keterlibatan orang tua dan guru dalam mengolah bahan bekas secara kreatif. Kegiatan ini sekaligus menghadirkan alternatif media pembelajaran yang sederhana, edukatif, ramah lingkungan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak usia dini.
Penulis : Saad Lintang